Pages

Subscribe:

Selasa, 25 Oktober 2011

Janji Itu


Dia bernama Zahra. Gadis pinggiran desa yang polos, menjalani hari-hari dengan keadaan sekitar yang serba apa adanya. Periang, tak mudah putus asa dan pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan!! Setamat dari sekolah menengah atas, Zahra ingin melanjutkan ke sebuah perguruan tinggi swasta. Namun melihat keadaan orang tua yang serba sederhana, dia berfikir bagaimana bisa?? Dengan penuh keyakinan dan pantang menyerah dia mencari jalan bagaimana agar bisa masuk kuliah tanpa memberatkan orang tuanya. Alhamdulillah dia bisa masuk Perguruan Tinggi yang dia inginkan dengan sampingan menjadi seorang penjaga warnet di rumah Omnya.

Satu cita-cita Zahra selain menjadi sarjana muslimah yang bisa menjadi anak yang sesuai dengan yang keinginan kedua orang tuanya, Zahra ingin membuat bahagia orang tuanya menyempurnakan rukun Islam yang ke 5 ke Baitulloh. Segala macam cara dan pekerjaan dia lakukan, asal halal untuk tabungan khusus orang tuanya.


Disuatu hari, Zahra dilanda dilema. Penyakit yang lama ada dalam dirinya kambuh. Penyakit yang tak tahu itu apa. Dia mengalami pendarahan hebat. Kesehariannya memakai pembalut layaknya bayi yang belum bisa bicara saat buang hajat. Zahra sadar, kali ini dia benar-benar kalah dengan keputus asaan. Berulang kali dia mencoba berobat kesana kemari, dokter sana dokter sini, tapi hasilnya?? Nol. Penyakit itu datang, datang dan datang lagi, tanpa diketahui oleh keluarganya. Zahra tak ingin mereka melihat orang tuanya sedih dengan keadaan yang dia alami.

Sampai akhirnya Zahra mengenal seorang laki-laki dari dunia maya. Namanya Abim. Pemuda cerdas, penyayang, seorang penyiar radio yang mudah bergaul dengan siapa saja, dan mempunyai semangat tinggi untuk selalu membuat orang disekitarnya bahagia. Berawal dari dunia maya inilah sosok Abim mulai masuk dalam hari-hari Zahra. Semangat yang setiap saat Abim infuskan dalam kehidupan Zahra membuatnya merasa bangkit dan menjadi gadis yang tak mudah putus asa seperti semula. 

Melangkahlah mereka kehubungan yang lebih serius. Disinilah Zahra mulai terbuka dengan apa yang menjadi dilemanya selama ini. Yang selalu ia sembunyikan dari orang-orang yang menyayanginya. Tentang penyakit itu dan cita-citanya memberangkatkan orang tuanya naik Haji. Mendengar hal itu Abim sedih namun juga terharu. Dia baru tahu dibalik keindahan mata dan senyum ceria seorang Zahra yang menurutnya mampu membuatnya berubah ternyata terdapat gunung api yang sewaktu-waktu bisa meledak. Juga terdapat keinginan suci yang begitu mulia. Abim tak mau gunung api itu menghantui kehidupan orang yang ia sayangi. Setiap detik waktunya ia gunakan memberi keyakinan kepada pasangannya. Dengan kasih sayang dan cinta tulusnya, Abim yakin dia akan mampu membuat Zahra sembuh. Ia kumpulkan uang untuk berobat. Ia berjanji akan selalu menjaga Zahra, agar dia tak ingat kalau dalam dirinya mempunyai penyakit yang begitu membuat hidupnya ketakutan.

Hari itu, hari dimana mereka bisa menghabiskan waktu berdua. Ditengah-tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Abim bertanya
" Maahhh... (begitu panggilan Abim pada Zahra, Mamah) Mamah pengen gag liat orang lain bahagia? Mamah mau gag lihat orang yang Mamah sayang bahagia? Mamah mau gag lihat orang yang Mamah sayang sehat layaknya orang lain yang enjoy dengan aktifitasnya tanpa hambatan??" 
Zahra terhenyak, " Iya pah... Pasti itu. Kenapa?" Tanya Zahra. " Kalau begitu Mamah harus sembuh ya? JANJI?? Mamah yakin, mamah pasti sembuh!!". 
Mendengar kata-kata itu Zahra seakan menemukan titik terang untuk penyakitnya. Dengan penuh haru ia menjawab "JANJI PAH!!"

Singkat cerita dengan usaha Abim yang begitu yakin bahwa kekasihnya akan sembuh, dia obatkan Zahra ke pengobatan tradisional dan dengan izin Alloh akhirnya Zahra sembuh total. "Pah... Terima kasih untuk semuanya. Janjiku telah ku penuhi."
Abim tersenyum bahagia dan berkata " Aku takut kehilanganmu!! Aku berharap kamu jadi yang terakhir buatku!!" Zahra tak kuat menahan air matanya. Dia peluk kekasihnya dengan penuh kelembutan " Jangan takut kehilanganku. Aku pun berharap hanya maut yang mampu mebuatku jauh darimu!!" 
"Janji Mah??"
" Insya Alloh!!"
" Oh ya Mah, aku kemarin baca koran ada kupon Haji, di undi 2 bulan lagi di salah satu mall di Surabaya. Aku udah dapat 3 kupon Mah, tapi aku tak tahu mau diapain."
" Iya kah Pah?? Coba kumpulin terus pah, siapa tahu lusa ada kelanjutan dari info naik haji dari koran tersebut"

Hari berganti minggu dan bulan. Kupon yang Abim dan Zahra kumpulkan telah terkumpul sebanyak 42 kupon. Dan benar info kupon naik haji itu di undi 2 bulan kemudian. Abim dan Zahra pun memutuskan berangkat berdua untuk mengikuti undian langsung disalah satu mall di Surabaya dengan menaiki kereta api. Dengan kesabaran, keyakinan dan do'a mereka, alhamdulillah salah satu kupon yang mereka punya terpanggil menjadi salah satu calon jemaah haji 2 orang sekalian. Dan akan berangkat pada tahun 2013 mendatang. Sungguh mu'jizat. Mereka pulang dengan penuh rasa syukur. " Terima kasih ya Alloh... Kau mendengar do'a kami..." Desah Zahra. " Pah... Terima kasih banyak yah, untuk semua perjuangan juga pengorbananmu..."
"Semua ku lakukan karena aku ingin melihat orang yang aku cintai bahagia, dan seperti yang kau katakan, AKU MENCINTAIMU HANYA KARENA ALLOH!!" Ucap Abim tulus kemudian mencium kening Zahra lembut.

Dalam perjalanan pulang, Zahra menggenggam tangan Abim erat. Abim sempat heran, tak biasa kekasihnya melakukan hal ini. Abim membalas genggaman tangan Zahra dan berjanji akan terus menjaganya. Tiba-tiba...................
Bruukkk..... Kepala Zahra terkulai lemas di pangkuan Abim. Abim terkejut!!! Dia mencoba bangunkan kekasihnya perlahan-lahan. Namun Zahra tak membuka matanya sedikitpun untuk Abim yang begitu berharap tak terjadi apa-apa pada kekasihnya. Abim baru tersadar bahwa dia akan kehilangan orang yang begitu dia sayangi ketika melihat darah merah matang yang membasahi busana Zahra. Deras, deras dan semakin deras........ Abim menangis sejadi-jadinya. Ia tak kuat menahan semua itu. Abim pulang dengan membawa kabar bahagia bahwa orang tua Zahra akan naik Haji tahun 2013 mendatang, namun terkoyak hatinya akan bongkahan kepahitan karena harus membawa pulang jasad kekasihnya. Sekarang Zahra tinggallah nama yang akan terus mengisi kamar hati Abim, kamar yang begitu sunyi dan penuh kegelapan. Terucap syukur karena telah di berikan kesempatan membantu mewujudkan cita-cita Zahra. " Selamat jalan sayang... I will always loving you..." ucapnya lirih pada pusaran Zahra.

Perjuangan yang tulus, keyakinan yang teguh, semangat yang mebara dan doa yang terus mengalir akan membawa manusia pada indahnya mimpi-mimpi mereka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar